Pangeran Edward Syah Pernong
Dari hasil perkawinan Pangeran Maulana Balyan dan Siti Rahmasuri lahirlah pewaris Kepaksian Pernong, Pangeran Edward Pernong. Diceritakan ada berbagai peristiwa unik menjelang kelahiran Pangeran Edward. Menurut adik kandung Pangeran Edward, Erlina, ia mendengar kisah dari ibunya, bahwa saat mengandung Pangeran, ia bermimpi berjalan menuju Gunung Pesagi, dan kepergian sang ibu tidaklah sendiri tapi diiringi oleh segenap rakyatnya. Masih menurut sang adik, keanehan lain yang ditemui adalah, karena Pangeran Edward berada dalam kandungan ibundanya di luar batas kewajaran. :12 bulan! Semua orang cemas menunggu kelahirannya. Bahkan sampai pada saat hendak dilahirkan pun, proses persalinan berlangsung cukup lama. Menurut cerita, karena sang pangeran belum juga mau keluar dari kandungan sang ibu, maka kakeknya Pangeran Suhaimi memerintahkan agar seluruh pintu dan jendela Lamban Gedung di Batu Brak dibuka. Dan perintah Pangeran Suhaimi diikuti, semua pintu dan jendela dibuka. Benarlah kata Pangeran Suhaimi, setelah pintu dan jendela terbuka, Pangeran segera terlahir ke muka bumi pada 27 Pebruari 1958.
Pangeran Edward tidak lama dalam belaian sang ibu. Hanya sekitar 3-4 tahun Pangeran Edward merasakan kasih sayang sang ibu. Saat usianya empat tahun, ia sudah harus mengikuti penempaan diri untuk menjadi Sai Batin. Ia dirawat oleh kakeknya, Pangeran Suhaimi. Sepengetahuan Pangeran Edward sendiri, ia direngkuh dalam bimbingan Pangeran Suhaimi karena memang disiapkan agar kelak benar-benar bisa menjadi pemimpin Kepaksian Pernong yang tahu secara mendalam nilai-nilai hidup masyarakat adat Sai Batin. “Kata Kakek, supaya saya bisa meneruskan budaya, meneruskan generasi keturunan Sekala Beghak. Kakek ingin Kerajaan Sekala Beghak ini terus bercahaya, bersinar. Harus bersinar,” cerita Pangeran Edward.
Sebagai bocah kecil, sebetulnya Pangeran Edward enggan berpisah dengan ibunya. Tetapi karena Pangeran Suhaimi pandai membujuk, dengan cara memenuhi permintaan Pangeran Edward, akhirnya Edward kecil mau juga tinggal bersama kakeknya.
Sampai saat ini Pangeran Edward masih teringat masa-masa awal berpisah dengan ibundanya, Siti Rahmasuri, pangeran kecil ini mengaku sering harus pura-pura masuk kamar mandi hanya karena ingin menangis. Menangis karena kangen pada ibu. “Ya, nangisnya sebentar saja, malam-malam tidak bisa tidur, masuk kamar mandi,” kenang Pangeran Edward.
Untuk membunuh rasa kangen terhadap ibunya, Edward kecil secara periodik mengunjungi ayah-ibunya di Baturaja. Jarak antara Tanjungkarang – Baturaja ditempuh dengan naik kereta. Rupanya, perjalanan menggunakan kereta ini juga memberi pengalaman berharga. Alam pedesaan dan kehidupan masyarakat sepanjang lintasan rel kereta api selalu menghidangkan secara riel situasi kondisi masyarakat Lampung. Dari situlah pemahaman awal tentang konstruksi sosial dalam masyarakatnya mulai dipahami.
Rasa kangen dengan sang ibu lama-kelamaan bisa diatasi setelah menyadari kalau dirinya adalah pewaris tahta Kepaksian Pernong. Ia mulai sadar, sesuai dengan tradisi, sebagai satu-satunya anak laki-laki keturunan garis lurus tanpa putus Sultan Kepaksian Pernong, ia harus mempersiapkan diri untuk memegang tanggung jawab, ia harus bisa mengutamakan kepentingan rakyatnya, mengalahkan kepentingan pribadi. Berpisah dengan ibu dan ayah dianggap sebagai salah satu bentuk persiapan menjadi sultan. “Saya harus ditempa, harus mengerti rakyat. Kalau bisa memahami rakyat maka rakyat akan mendukung. Lama bergaul di tengah mereka, maka akan tahu bagaimana memimpin orang Lampung. Kalau tidak kenal, tidak bisa, sulit ….,” cerita Pangeran Edward lagi.
Sebagai pewaris tahta Kepaksian Pernong, sejak kecil Edward sudah dipanggil Pangeran oleh orang-orang di sekitarnya. Kakeknya pun menyebut dirinya sebagai Pangeran kalau sedang berbicara tentang Edward kepada orang lain. Jadi sejak kecil, Edward telah dibangun kesadaran dan nalurinya, bahwa dia adalah pangeran pewaris tahta. Sebagai seorang Pangeran, lingkungannya juga memberikan dukungan; semua orang menyebutnya sebagai Pangeran, Edward menjadi mulai mengetahui apa yang sepantasnya dilakukan dan tidak pantas dilakukan.
Salah satu bentuk pendidikan awal untuk menjadi sultan selain sebutan pangeran adalah diharuskannya Pangeran Edward duduk di kursi/posisi tertentu dalam suatu rapat, pertemuan, perhelatan, dan atau berjalan pada posisi tertentu dalam acara-acara adat lainnya. Bentuk lainnya, kalau berjalan ia diiring banyak orang. Dan, lambat laun, sesuai dengan pertambahan umurnya ia makin dibiasakan dalam kedudukannya sebagai Pangeran pewaris tahta Kepaksian Pernong. “Namanya juga anak-anak, waktu itu saya pikir juga, ada apa dengan semua ini? Di dekat acara ada kawan sebaya, kawan main, saya tarik-tarik agar ikut berjajar denganku, tahu-tahu ada manusia dewasa yang melarang, tidak boleh begitu … seharusnya begini ….. “
Sebagai seorang calon sultan, Pangeran Edward harus mempunyai “kelebihan” dibanding dengan rakyatnya. Maka selain diajar bagaimana harus bersikap sebagai calon sultan, ia juga dididik oleh sang kakek tentang segala aspek kehidupan. Dalam ingatan Pangeran Edward, tidak selalu pelajaran yang diberikan kakeknya merupakan pelajaran yang rumit. Seringkali sang kakek justru memberikan pelajaran dari kehidupan sehari-hari sehingga mudah ditangkap oleh cucunya. Seperti misalnya, ketika Pangeran Edward ingin mengundang makan kawan-kawan sebayanya, ia menampik mengundang seorang kawan yang tubuhnya korengan. Kakeknya bilang, tidak bisa. Kawan itu harus tetap diundang karena dia sehari-hari bermain bersama. Termasuk berangkat semobil menuju tempat perhelatan. “Jadi kamu tetap harus makan bersama dia. Kau tidak boleh membeda-bedakan. Saya ingat, dan saya berkawan sampai sekarang,” kata Pangeran Edward mengenang.
Ajaran Pangeran Suhaimi ini masih tetap dilakukannya hingga kini. Sebagai Sai Batin, pemilik adat dan pemilik rakyat Kepaksian Pernong, juga sebagai Kapolres Jakarta Barat, dua jabatan tinggi itu tak melenakannya untuk bergaul dengan siapa saja. Ia dekat dengan para ulama, para pemuka adat, para raja Nusantara, juga dengan wartawan dan intelektual. Bila ada kesempatan, dalam kesibukan tugas kepolisian, Pangeran Edward selalu menyempatkan diri untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Apalagi dalam bulan puasa. Pernah suatu ketika, Pangeran mengundang anak yatim piatu pada subuh hari pada bulan Ramadhan ke Mapolres Jakarta Barat untuk menerima santunan dan mengikuti pengajian selepas subuh. Saat “pulang kampung” untuk keperluan ziarah, Maret 2007 lalu pun Pangeran Edward selalu menyempatkan membagi rezeki untuk anak yatim piatu di dekat lokasi ziarah.
Kebiasaan menyantuni fakir miskin, terutama anak-anak yatim-piatu sudah menjadi ‘ritual’ sejak Pangeran Edward masih kecil. Menurut keterangan Erlina, adik kandung Pangeran Edward, kakaknya itu sejak kecil suka berbagi dengan kaum fakir miskin dan anak yatim. “Bahkan terkadang kami, adik-adiknya, merasa Pangeran lebih menyayangi anak yatim daripada kami. Meski kami kemudian menyadari kalau apa yang Pangeran lakukan itu benar.”
Sementara bagi Pangeran Edward, penerus para mujahid pendiri Sekala Beghak memiliki kewajiban untuk terus mengembangkan syiar Islam. Seorang Sai Batin juga merupakan imam bagi rakyatnya. Bukan hanya pemimpin formal tapi juga pemimpin spiritual. Berkewajiban membentuk rakyatnya menjadi pribadi yang beriman pada Allah, mencintai Rasulullah, dan berakhlak mulia. “Kakek selalu mengajarkan saya untuk menjalankan syariat dengan benar. Orang bisa disebut baik kalau ia menjalankan syariat agamanya dengan baik.”
Dalam satu kesempatan, Pangeran Edward menasehati seseorang, “Kalau kamu tidak menunaikan ibadah haji, maka kamu belum mencintai Rasulullah. Karena saat kita menjalankan ibadah haji, kita bisa merasakan bagaimana perjuangan Rasulullah untuk menyiarkan Islam, sehingga kita akan malu kalau melakukan perbuatan yang tidak baik.”
Melalui kakeknya pula, Pangeran Edward mendapatkan pelajaran tentang harkat dan martabat manusia. Ia menyadari kalau setiap orang bisa menjadi orang baik-baik kalau beradab, tahu bahasa. Orang beradab dan biadab bisa terlihat dari tata cara dan perilaku kesehariannya. Kata kakeknya memberikan contoh, tidak ada gunanya keturunan AMS – setingkat SMA, (baca: pendidikan tinggi) kalau tidak punya adat, tidak tahu adab, tidak tahu bahasa. “Orang yang tak tahu adab artinya sama dengan binatang, kata kakek saya,” tutur Pangeran Edward.
Dari mulut kakeknya pula Pangeran Edward mengenali dan memahami adat istiadat Sai Batin. Kakeknya tidak hanya berbicara riwayat nenek moyang mereka saja. Pangeran Suhaimi juga selalu menyuntikkan pemahaman pernik-pernik adat Sai Batin kepada cucu kesayangan dan cucu harapannya ini. “Entah karena apa, setiap kata-kata kakek yang berkait dengan adat istiadat, saya ingat sampai sekarang,” kata Pangeran Edward. Bahkan kalimat doa dan sejumlah lirik syair penting lainnya pun masih diingatnya. Terutama, kalimat-kalimat bijak dan ungkapan penuh kearifan lainnya yang digali dari khazanah budaya Sai Batin.
Tidak selamanya Pangeran Edward mendapatkan pelajaran secara langsung dari kakeknya, khusunya pelajaran tentang agama. Seringkali ia mencuri dengar saat sang kakek berbicara dengan tamu-tamunya—mungkin juga sang kakek sengaja melibatkan cucunya yang masih kecil. Misalnya, saat Pangeran Suhaimi berbicara dengan sejumlah ulama dari mazab tertentu yang membahasa syariat, makrifat, dan hakikat. Mereka berbicara disertai dalil yang mengutip ayat-ayat Al Quran, Hadits dan juga Kitab-kitab tertentu. Semua lancar disebutkan di luar kepala dalam bahasa aslinya dan berdebat dengan argumen yang sangat logis dan cerdas. Pangeran Edward memang belum cukup umur waktu itu tetapi mendengar mereka berdiskusi, rasanya banyak hal yang bisa ia tangkap arah pembicaran mereka. Meski Pangeran Suhaimi selalu melayani percakapan dengan mereka namun kepada Pangeran Edward mengatakannya secara berbeda. “Yah, yang itu tadi kan pembicaraan tentang proses seperti yang dialami para nabi. Semua nabi mengalami hal seperti itu. Nah, Jujungan (kakek sering menyebut Rasulullah Muhammad SAW dengan Junjungan) sudah menemukan Allah, sudah membawa perintah langsung dari-Nya, sudah membawa tuntunan. Kita-kita ini, tinggal melaksanakan. Tidak usah mencari-cari sendiri, sudah itu Al Quran dan Hadits, laksanakan saja. Semua sudah tersedia, laksanakan saja,” cerita Pangeran Edward mengenang kakeknya.
Selain dari mencuri dengar, pelajaran tentang aspek spiritual dalam Islam juga diperoleh Pangeran Edward secara langsung. Dalam ingatannya, suatu periode waktu tertentu setiap malam ia tidur di sisi kakeknya. Dalam sepetiduran itulah dia bersaksi bahwa kakeknya melakukan suatu dzikir dalam suatu tarekat tertentu. Dalam masa itu pula, kakeknya juga menerima tamu dan berbicara masalah-masalah agama yang mendalam, sampai ke perbincangan makrifat. Meskipun kakeknya memberi bekal pengetahuan kepada sejumlah orang tentang ilmu makrifat, tetapi kepadanya tidak bicara mendalam. Tampak sekali, Kakeknya memproyeksikan cucunya untuk menjadi Sultan dengan bekal mental dan pikir yang kuat.
“Selesai bicara mendalam tentang agama kepada sejumlah ulama yang datang, kakek suatu kali bilang padaku, ‘Kita ini sudah enak karena proses menemukan Tuhan telah dicapai oleh Nabi Muhammad dan kita tinggal meneruskan sunah Nabi untuk beribadah kepada Allah’, mungkin maksud Kakek kita harus tekun beribadah karena kita percaya, dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul-Nya. Kalau kita percaya, maka tinggal melakukan sebagaimana dilakukan Nabi. Artinya, proses berat menuju makrifat sudah tercapai, kita tinggal menjalankan syariat. Secara sederhana Kakek hanya mau bilang, meski beliau belajar tasawuf tetapi saya tak perlu sampai ke sana. Mungkin Kakek hanya melihat satu-satunya tugas hari depanku: menjadi Sai Batin.”
Meski Pangeran Edward pada saat itu tidak paham benar apa yang disampaikan kakeknya kepada tamunya, namun ingatan ini betul-betul melekat dalam batinnya. Dari situlah dia tahu, Kakeknya seorang pengamal ajaran Islam yang taat dan pandai menempatkan diri. Belakang hari, ia baru menyadari, Kakeknya mengelola masalah furuq, perbedaan kecil, dalam menjalankan ibadah dengan amat baik. Bahkan, Kakeknya juga dapat menjelaskan masalah perbedaan tradisi dan agama dengan baik. “Kakek menganggap kenduri selamatan bagi orang yang meninggal tidak perlu dilakukan. Orang kesusahan kok malah bikin makanan,” kata Pangeran Edward.
Pada usia yang sangat dini itu Pangeran Edward juga menyaksikan Kakeknya selalu berusaha menjalankan ibadah sesuai dengan sunnah Nabi. Bersamaan dengan itu, Kakeknya tidak fanatik memilih salah satu aliran atau organisasi keagamaan tertentu. Suatu kali Kakek mengatakan, berwudlu sudah merupakan wujud awal niat untuk menjalankan shalat. Tetapi, kata Pangeran Edward, pada kali lain kakek juga membaca “usholi ….” dan baca qunut juga. “Tapi kakek selalu saya lihat melakukannya dengan penuh kesadaran didasari alasan yang kuat. Kakek, berpikir dan bertindak merdeka dilandasi basis pemahaman yang kuat.”
Selain mendapatkan pelajaran dari kakeknya, Pangeran Edward juga menempuh pendidikan formal. Namun, menurut pengakuannya sendiri ia bukan tipe anak yang rajin sekolah. Bahkan, masa sekolah ini dilewati dengan “hobi khususnya”, suka pindah-pindah sekolah. Bahkan, dia mengaku tidak terlalu memikirkan mata pelajaran sehingga tidak mengetahui pelajaran yang disuka atau dibenci.
Walaupun tidak suka membaca buku pelajaran ternyata Pangeran Edward merupakan seorang penggila komik. Ia sangat menyukai komik wayang RA Kosasih. Komik-komik itu telah dibacanya sejak sebelum masuk sekolah. Begitu masuk sekolah dasar, kerjaannya setiap hari pergi ke Pasar Tanjung Karang, cari komik. Baca komik di pasar, tidak masuk sekolah. Pulang siang, langsung masuk kamar dan meneruskan membaca Komik. Perilaku ini ternyata diperhatikan oleh Kakeknya. Disangkanya, cucunya ini kelelahan, setiap pulang sekolah langsung istirahat. Suatu ketika, ada surat panggilan dari sekolah gara-gara Pangeran jarang masuk kelas. Meski Kakeknya pejabat daerah dan pemimpin adat yang terpandang serta disegani, dalam urusan cucu kesayangannya ini ia tak mau mewakilkan pada utusannya. Pangeran Suhaimi datang sendiri ke sekolah. Setelah itu, Pangeran Edward pun masuk kelas lagi dan diberitahu oleh guru-gurunya, bahwa dia hampir saja tidak naik kelas!
“Banyak tuh kawan saya, ada yang kelas lebih atas waktu itu yang tahu soal kelakuan saya di SD, itu Zulkifli yang jadi bupati, Fauzan juga jadi bupati, dan itu Basri jadi Sekda, juga ada yang sekarang menjadi kepala dinas di Banten,” kata Edward Syah Pernong sambil tertawa. Meski gemar membolos, suka pindah-pindah sekolah, namun pendidikan formal ditempuhnya dengan mulus. Ia lulus SD tahun 1972, lalu tamat SMP tahun 1975, dan SMA tahun 1977.
Dari komik itulah Pangeran Edward kemudian tertarik memelajari silat. Ketertarikan ini mendapat dukungan dari sang kakek. Maka diundanglah guru silat. Silat Kumango dan Silat Melayu. Guru silat Pangeran Edward adalah Mat Umar dan Tuyuk Madat yang masih terbilang kakeknya. Mat Umar mengajarkan pernafasan dan teknik gerak : pukulan, tendangan, tangkisan, bantingan, loncatan, kembangan, gerak tipuan yang dirangkai dalam jurus-jurus silat yang bercampur antara keras, lembut, cepat, lambat serta tarung. Dan Toyuk Madat mengajarkan “filosofi dasar” gerak dan jurus silat.
Memelajari ilmu silat bagi Pangeran Edward adalah untuk menambah rasa percaya diri dalam menghadapi kehidupan. “Percaya diri memang kuncinya. Tetapi percaya diri itu harus diciptakan, diperjuangkan, dan diusahakan. Binalah dirimu sehingga selalu siap sewaktu-waktu dibutuhkan, begitu kata Bruce Lee,” kata Pangeran Edward sambil tertawa.
Juli 5th, 2010 at 15:16
Selamat saya Ucapakan atas keberhasilan Bapak… Semoga berlanjut terus dan semakin sucses..
Dari sahabat lama di Jakarta Pusat ( Cempaka Putih) Kita berjalan masa Bapak masih menjabat Di Poler Jakarta Pusat 1992 s/d 1995
Terimakasih semoga lebih maju dan sucses